Kamis, 10 Mei 2012

Anders Behring Breivik




Norwegia, sebuah negara anti-kekerasan yang rutin menggelar penganugerahan Nobel Perdamaian Dunia seolah runtuh. Bom berkekuatan besar meledak di pusat pemerintahan di Oslo, Jumat 22 Juli 2011. Dua jam usai ledakan, tragedi berlanjut dengan aksi mengebom Kantor Perdana Menteri Norwegia di Oslo dan kemudian menembaki remaja dari organisasi pemuda Partai Buruh secara brutal yang sedang berkemah di Pulau Utoeya, 45 km dari Oslo. Korban total 76 orang, sebagian besar remaja dan sebagian anak-anak. Semula orang, mengira kejadian tanggal 21 Juli 2011 ini adalah perbuatan Al-Qaeda lagi, pascakematian Osama bin Laden. Ternyata dugaan ini salah. Pelakunya adalah Anders Behring Breivik, pemuda 32 tahun, penganut Kristen Radikal, yang menyerah begitu saja, tanpa perlawanan, ketika polisi akhirnya menyerbu Pulau Utoeya untuk menangkapnya.
Lebih mengherankan lagi, Breivik praktis bekerja sendirian. Ia anak diplomat, bukan dari keluarga miskin (di Norwegia, sepanjang yang pernah saya lihat, tidak ada orang miskin). Ibunya perawat. Tapi Anders tidak dekat dengan ayahnya, malah pernah dua tahun tidak saling bicara.
Breivik besar di jalanan, gabung dengan anak-anak hip hop, ngecet-ngecet dinding (graviti), dan membenci geng anak-anak Turki, Somalia, dan Pakistan, yang sesama anak jalanan (anak-anak yang keliaran di jalan-jalan, bukan menggelandang di jalan). Sejak umur 17, dia sudah bergabung dengan sebuah partai yang menentang imigran.
Ia mempelajari Islam secara otodidak dan makin mendalami Islam, dia makin benci Islam. Dalam bukunya setebal 1.516 halaman yang berjudul 2083: A European Declaration of Independent, Anders menulis, ”…Islamic achievement in the fields of arts, literature, science, medicine, etc. in no way refute that Islam is intrinsically violent”.
Selanjutnya, untuk para anggota parlemen Norwegia dan Eropa yang ikut memperjuangkan Turki untuk masuk Uni Eropa (UE), dia menyarankan agar mereka pergi sendiri ke pedalaman Turki dengan memakai sweater berkalung Salib, ”…and see how long it takes before they are beaten or get murdered. Then he will bear witness himself how ‘tolerant’ Turkish Muslims are” (sumber: NRC.NEXT, Maandag, 25 Juli 2011: 4).
Tapi Breivik juga membenci kaum komunis. Remaja dan anak-anak yang ditembakinya secara membabi buta di Pulau Utoeya adalah anggota-anggota remaja dari Partai Buruh yang dianggapnya komunis, yang kebetulan sedang kemping di sana. Menurut Breivik, Islam dan komunis sama saja.
Dua-duanya bertujuan untuk mengambil alih sistem kemasyarakatan Kristen yang selama ini sudah mapan. Pemerintahlah yang paling bertanggung jawab dengan memberi kesempatan Islam dan komunis masuk Norwegia dan Eropa. Karena itu ia mencanangkan perang birokrasi dan bomnya ditujukan buat Perdana Menteri yang melambangkan birokrasi yang buruk.
Tapi perangnya itu dilakukan sendirian. Dia bekerja serabutan dan pernah berbisnis di bidang teknologi informasi (TI). Bangkrut, tetapi berhasil menyimpan 500.000 euro untuk dibelikannya senjata dan bom. Ia berfoto dengan seragam jenderal dan pasukannya diklaimnya 7.000 orang, yaitu followers-nya di Facebook.
Dari pengalaman para ahli yang meneliti puluhan mantan pelaku terorisme, baik yang narapidana, mantan narapidana maupun yang non-narapidana yang juga memang ada persamaan antara Breivik dan pelaku-pelaku terorisme di Indonesia. Misalnya, menargetkan korban yang banyak, korban adalah orang-orang tak berdosa dan tak ada hubungannya dengan isu yang dipersoalkan, ada tujuan politik atau ideologi di belakangnya dan dilakukan di negeri sendiri.
Breivik melakukannya di Oslo dan Pulau Utoeya, bukan di Turki atau Pakistan, dengan sesama Kristen ikut menjadi korban. Sama seperti teroris Indonesia yang melakukan aksinya di Indonesia, dengan sesama muslim ikut menjadi korban. Tapi dinamika psikososial-politik yang mendasarinya sangat berbeda.
Psikodinamika yang melatarbelakangi perilaku Breivik tidak lazim di kalangan teroris Indonesia, tetapi mirip dengan Imam Samudra. Pemuda ini sejak remaja sudah mendalami Islam secara otodidak juga dan semakin mendalami Islam, ia semakin membenci Kristen.
Ia pun sejak remaja sudah bergabung dengan sebuah organisasi pelajar Islam dan menjadi ketua seprovinsi Banten. Ia keluar dari SMA dan memilih sekolah di madrasah. Sama seperti Breivik yang bermimpi tentang ”revolusi birokrasi”, Imam Samudra juga bercita-cita untuk membuat revolusi Islam. itu.
Setelah peristiwa tersebut, dunia internasional dan warga Norwegia bertanya-tanya, siapa pelakunya? Anders Behring Breivik, pria 32 tahun berperawakan tinggi, dengan rambut pirang dan mata biru, dituding sebagai biang keladi tragedi kemanusiaan terburuk sejak Perang Dunia II yang melanda negara Skandinavia itu. Tidak banyak keterangan yang bisa digali tentang Anders. Informasi tentang pemuda taat beribadah itu terungkap dalam akun facebooknya. Anders adalah pria yang dikenal sebagai pemeluk Kristen yang taat. Anders menuliskan ketertarikannya pada aspek olah tubuh dan memiliki perasaan yang peka terhadap sesama.
Tak ada yang aneh dari Anders Behring Breivik. Tidak ada catatan perbuatan kriminal yang tertoreh dalam data kepolisian. Pemuda ini pun tak memiliki latar belakang kemiliteran. Anders diperkirakan besar di Oslo dan menempuh jenjang pendidikan di sekolah manajemen Oslo. Kelar menuntaskan pendidikannya, Anders meninggalkan kota dan membangun lahan pertanian milik keluarga. Media elektronik TV2 menyebut, pertanian Anders mengembangkan sayur, umbi dan buah.
”Saat masih kanak-kanak, dia adalah seorang anak laki-laki biasa, tetapi penyendiri. Dia tak tertarik pada politik saat itu,” tutur ayah Anders, Jens Breivik, yang mengaku masih terkejut mengetahui anaknya adalah pelaku pembantaian 76 orang di Norwegia, Jumat pekan lalu.
Jens masih bekerja sebagai diplomat di Kedutaan Besar Norwegia di London, Inggris, saat Anders lahir, 13 Februari 1979. Ibu Anders adalah seorang perawat, yang diceraikan Jens saat Anders berusia 1 tahun. Sejak saat itu, Anders dibesarkan ibunya di Oslo, di tengah lingkungan keluarga kelas menengah. Dalam catatan pribadi yang ia unggah di internet, Anders mengaku tak pernah punya masalah besar atau kesulitan keuangan semasa kanak-kanak.
”Saya beruntung dibesarkan dengan orang-orang cerdas dan bertanggung jawab di sekitar saya,” tutur Anders, yang menyebut kedua orangtuanya adalah pendukung Partai Buruh Norwegia.
Salah satu teman sekolah Anders, Michael Tomala, mengaku kaget melihat Anders saat ini menjadi pembenci imigran dari negara-negara Timur Tengah. ”Salah satu teman baiknya dulu adalah seorang dari Timur Tengah, dan waktu itu mereka terlihat berteman baik sampai lulus SMP,” kenang Tomala.
Anders sendiri mengaku, pandangan hidupnya mulai berubah pada suatu hari di tahun 1991 saat Perang Teluk I berkecamuk di Irak. Anders merasa terganggu saat seorang temannya yang Muslim bersorak gembira saat mendengar laporan pasukan Amerika diserang rudal- rudal Irak.
”Saya masih bodoh dan apolitis waktu itu, tetapi sikapnya yang sama sekali tak menghormati bangsa saya (dan bangsa Barat secara umum) benar-benar memicu minat dan hasrat saya waktu itu,” ujar Anders dalam manifestonya setebal 1.500 halaman.
Rasa tak nyaman dengan satu temannya yang berasal dari latar belakang bangsa dan kultur berbeda itu ia bawa dan pelihara hingga beranjak dewasa. Tahun 1999, Anders menjadi anggota Partai Kemajuan, partai berhaluan kanan yang mengkritik kebijakan Pemerintah Norwegia mengizinkan arus imigran dari negara-negara Timur Tengah.
Saat aktif di partai tersebut, Anders pun tidak menonjol. ”Orang-orang yang mengenal dia semasa masih menjadi anggota organisasi ini mengatakan, dia adalah seorang pemalu yang jarang ikut diskusi,” cetus pernyataan resmi Partai Kemajuan, Sabtu.
Anders pun kemudian keluar dari partai pada tahun 2004-2006 dengan alasan partai tersebut masih terlalu terbuka terhadap ”tuntutan multikultural” dan ”gagasan humanisme yang menghancurkan diri sendiri”.
Meski ia terang-terangan menunjukkan pandangan Islamophobia dan anti-multikulturalisme dalam manifestonya, Anders bersikeras dirinya bukan seorang rasis. Ia juga mengaku tidak suka dengan gerakan Neo-Nazi.
Kini pemuda ini diketahui tak aktif lagi menggunakan media jejaring sosial facebook dan twitter sejak 17 Juli lalu. Dalam status terakhirnya di FB, Anders mengutip kata-kata filsuf John Stuart Mill, "Satu orang dengan kepercayaan sama dengan 100.000 orang yang memiliki ketertarikan". Sejak itulah Anders tak pernah lagi muncul di jejaring sosial dunia maya.

Aksi tunggal?
Berdasar dokumen internet yang kini disita polisi, Breivik diduga merencanakan aksinya sejak 2009. Ia memulainya dengan membangun bisnis pertanian sebagai kedok untuk pembelian bahan peledak. Terbukti pada Mei lalu, ia membeli sekitar 6 ton pupuk yang diduga kuat sebagai bahan baku bom yang meledak di jantung kota Oslo, Jumat lalu.
Jika akses membeli bahan baku bom ia miliki lewat usahanya di bidang pertanian, izin kepemilikan senjata api ia miliki melalui hobinya berburu. Di Norwegia, memiliki senjata api pribadi bukan hal sulit. Pada 1 Januari 2010, sebanyak 439 ribu warga Norwegia tertera di Daftar Pemburu Norwegia. Itu artinya, setiap satu dari 10 warga Norwegia memiliki senjata api. Sebagian besar pemilik memilih senjata semi-otomatis dan senapan bolt-action dengan alasan untuk keperluan berburu.
Sementara kepiawaiannya menembak mungkin ia dapat melalui kegiatannya di organisasi sayap kanan neo-nazi Norwegia. Bersama anggota fanatik organisasi ini, ia aktif berlatih menembak di Oslo Gun Club untuk mempersiapkan perang salib berikutnya yang mereka yakini. Sang pengacara, Geir Lippestad, mengatakan Breivik melakukan pemboman dan penembakan itu seorang diri. Merencanakannya sejak lama, Breivik menganggap kebrutalan yang dilakukannya merupakan suatu keharusan, meskipun sangat mengerikan. "Ia mengaku bertanggung jawab," kata sang pengacara.
Meski Breivik, yang tak memiliki catatan kriminal sebelumnya, mengaku sebagai pelaku tunggal, polisi tetap menelusuri kemungkinan keterlibatan orang lain dalam tragedi ini. "Keterangan para saksi penembakan di pulau Utoeya membuat kami tidak yakin mengenai kepastian jumlah pelaku," kata Kepala Polisi Sveinung Sponheim.
Terlepas dari perdebatan aksi tunggal atau kelompok, tragedi kemanusiaan tersebut menunjukkan wajah terorisme sesungguhnya. Tragedi yang menewaskan lebih 80 korban tewas, dan puluhan korban luka itu, menegaskan bahwa terorisme tak terkait ajaran agama tertentu. Terorisme sebatas paham menebar ketakutan.

Anders Breivik dinyatakan tidak waras
Para ahli mengatakan Breivik mengidap paranoid schizophrenia.
Tim psikiater yang ditunjuk pengadilan di Norwegia menyimpulkan bahwa Anders Behring Breivik, yang membunuh 76 orang Juli lalu, dalam keadaan tidak waras ketika melakukan kejahatan tersebut. Para ahli jiwa mengatakan Breivik mengidap paranoid schizophrenia, yang meyakini ia telah dipilih untuk menyelamatkan rakyat Norwegia. Breivik juga yakin ia berhak untuk menentukan mana yang seharusnya dibiarkan hidup dan mana yang harus mati.
Kesimpulan tim psikiater yang tercantum dalam laporan setebal 243 halaman ini akan diuji oleh satu tim panel organisasi medis Norwegia. Meski dinyatakan tidak sehat secara kejiawaan, ia masih akan menjalani persidangan April tahun depan dalam kasus ledakan bom di Oslo dan penembakan puluhan orang di Pulau Utoeya.
Breivik telah mengakui dakwaan yang dijatuhkan kepadanya namun menegaskan dirinya tidak bersalah.

Rumah sakit jiwa
Breivik mengatakan tindakan yang ia ambil bisa dikatakan kejam namun merasa tindakan tersebut perlu diambil. Namun besar kemungkinan ia akan dikirim ke rumah sakit jiwa, bukan ke penjara, setelah menjalani proses hukum.
Sebelum keterangan resmi mengenai kondisi kejiwaan Breivik diumumkan, pengacaranya mengatakan Breivik tidak boleh dibiarkan bebas.
"Untuk kasus ini, apa pun kesimpulannya, Breivik harus tetap dikurung," kata John Christian Elden, pengacara Breivik. "Jangan biarkan ia bebas di luar," tandasnya.
Pada 22 Juli 2011 Breivik, dengan mengenakan pakaian polisi, meledakkan bom mobil di dekat kantor pemerintah di ibukota Oslo, yang menewaskan delapan orang. Masih dengan seragam tersebut ia menuju Pulau Utoeya, yang menjadi lokasi kemah musim panas organisasi pemuda Partai Buruh yang berkuasa. Di pulau ini Breivik melakukan aksi penembakan selama lebih dari satu jam menewaskan 76 orang.
Dalam manifesto yang ia terbitkan di internet, Breivik mengatakan berjuang untuk membela Eropa dari invasi orang-orang Islam. Invasi Muslim ini, kata Breivik, dimungkinkan oleh kebijakan yang terapkan Partai Buruh di Norwegia dan Uni Eropa.

Sumber :

Hasil Analisis dari kasus ini:
Kedua orangtua Anders sudah bercerai sejak usia Anders 1 tahun. Anders tinggal bersama ibunya yang seorang perawat. Ayahnya seorang Diplomat di Kedutaan Besar Norwegia di london, Inggris. Walaupun ia hanya diasuh oleh ibunya, Anders masih hidup layak. Ia mengakui tidak pernah mempunyai masalah besar atau kesulitan keuangan semasa kanak-kanak. Oleh karena itu ia mengaku sangat beruntung dibesarkan dengan orang-orang cerdas dan bertanggung jawab. Tetapi walaupun begitu ternyata Anders kekurangan kasih sayang dari ayahnya sejak saat itu bahkan Anders tidak pernah menjalin komunikasi selama dua tahun dengan ayahnya itu.

Anders termasuk individu yang introvert. Saat masik kanak-kanak, Anders adalah anak laki-laki yang biasa dan penyendiri. Menurut ayahnya ia tidak tertarik pada dunia politik saat itu tetapi pada tahun 1999 ia pun bergabung dalam Partai Kemajuan, partai berhaluan kanan yang mengkritik kebijakan Pemerintah Norwegia mengizinkan arus imigran dari negara-negara Timur Tengah. Namun saat aktif di partai tersebut, Anders pun tidak menonjol. Orang-orang yang mengenal dia semasa masih menjadi anggota organisasi pun mengatakan, dia adalah seorang pemalu yang jarang ikut diskusi. Kemudian Anders keluar keluar dari partai pada tahun 2004-2006 dengan alasan partai tersebut masih terlalu terbuka terhadap ”tuntutan multikultural” dan ”gagasan humanisme yang menghancurkan diri sendiri”.

Anders juga mengalami sublimasi, yakni kecenderungan menekan  masalah pada media lain. Seperti terhadap media elektronik yang digunakan Anders melalui jaringan sosial didunia maya. Ia selalu mencurahkan keluh kesahnya dan harapan bahkan mengekspresikan dirinya (mis. Berfoto dengan baju tentara dan mengkalim followers adalah prajurit tentaranya) hanya lewat jaringan sosial, seperti twitter maupun facebook.

Anders Behring Breivik mengidap paranoid schizophrenia, dimana individu menaruh kecurigaan sangat besar bahkan juga kebencian dan ketidak nyamanan terhadap seseorang, tidak ramah bahkan menunjukkan permusuhan; agresif. Anders yang menganggap umat Islan adalah kaum komunis. Menurutnya komunis dan Islam itu sama saja. Dua-duanya bertujuan untuk mengambil alih sistem kemasyarakatan Kristen yang selama ini sudah mapan. Pemerintahlah yang paling bertanggung jawab dengan memberi kesempatan Islam dan komunis masuk Norwegia dan Eropa. Karena itu Anders juga pernah mencanangkan perang birokrasi dan bomnya ditujukan untuk Perdana Menteri yang melambangkan birokrasi yang buruk dan juga menembaki para remaja serta anak-anak secara brutal yang sedang berkemah pada musim panas pada Juli 2011 lalu.

Selain itu Anders juga merasa tak nyaman dengan satu temannya yang berasal dari latar belakang bangsa dan kultur berbeda itu yang ia bawa dan pelihara hingga beranjak dewasa. Karena dulunya Anders merasa terganggu saat temannya yang Muslim itu bersorak gembira saat mendengar laporan pasukan Amerika diserang rudal- rudal Irak. Anders merasa sikap temannya itu tidak menghormati bangsanya. Hingga pada tahun 1999, Anders menjadi anggota Partai Kemajuan, partai berhaluan kanan yang mengkritik kebijakan Pemerintah Norwegia mengizinkan arus imigran dari negara-negara Timur Tengah.

Dia juga mengalami waham kebesaran (delusion of grandeur), yaitu disertai dengan adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang dipertahankan, yang tidak adekut, yang tidak dapat dikoreksi. Keyakinan bahwa dirinya termasuk anggota militer yang sebenarnya tidak ada latar belakang kemiliteran. Sampai-sampai ia berfoto dengan seragam jenderal dan pasukannya diklaimnya 7.000 orang, yaitu yang sebenarnya adalah followers-nya di Facebook. Ia juga meyakini ia telah dipilih untuk menyelamatkan rakyat Norwegia. Breivik juga yakin ia berhak untuk menentukan mana yang seharusnya dibiarkan hidup dan mana yang harus mati.

Minggu, 06 Mei 2012

A Beautiful Mind Movie




Film A Beautiful Mind menggambarkan kisah perjuangan seorang ahli matematika genius yang bernama John Forbes Nash, yang berhasil menciptakan konsep ekonomi yang kini dijadikan sebagai dasar dari teori ekonomi kontemporer. Selama Perang Dingin berlangsung, Nash mengidap schizophrenia yang membuatnya hidup dalam halusinasi dan selalu dibayangi ketakutan hingga ia harus berjuang keras untuk sembuh dan meraih hadiah Nobel tahun 1994, kala ia memasuki usia senja.
Kisah dibuka dengan Nash muda di tahun 1948 yang memulai hari-hari pertama kuliahnya di universitas bergengsi, Princeton University. Sejak awal, Nash -lelaki sederhana dari dusun Virginia digambarkan sebagai pribadi penyendiri, pemalu, rendah diri, introvert sekaligus aneh. Aku tak terlalu suka berhubungan dengan orang dan rasanya tak ada orang yang menyukaiku, ujar Nash berkali-kali. Di balik segala kekurangannya, Nash juga digambarkan sebagai laki-laki arogan yang bangga akan kepandaiannya. Ini ditunjukkannnya dengan cara menolak mengikuti kuliah yang dianggapnya hanya menghabiskan waktu dan membuat otak tumpul. Sebagai gantinya, Nash lebih banyak meluangkan waktu di luar kelas demi mendapatkan ide orisinal untuk meraih gelar doktornya dan diterima di pusat penelitian bergengsi, Wheeler Defense Lab di MIT.
Di tengah persaingan ketat, Nash mendapat teman sekamar yang sangat memakluminya, Charles Herman yang memiliki keponakan seorang gadis cilik Marcee. Nash yang amat terobsesi dengan matematika-sampai-sampai menulis berbagai rumus di kaca jendela kamar dan perpustakaanakhirnya secara tak sengaja berhasil menemukan konsep baru yang bertentangan dengan teori bapak ekonomi modern dunia, Adam Smith. Konsep inilah yang dinamakannya dengan teori keseimbangan, yang mengantarkannya meraih gelar doktor. Mimpi Nash menjadi kenyataan. Tak hanya meraih gelar doktor, ia berhasil diterima sebagai peneliti dan pengajar di MIT.
Hidup Nash mulai berubah ketika ia diminta Pentagon memecahkan kode rahasia yang dikirim tentara Sovyet. Di sana, ia bertemu agen rahasia William Parcher. Dari agen rahasia ini, ia diberi pekerjaan sebagai mata-mata. Pekerjaan barunya ini membuat Nash terobsesi sampai ia lupa waktu dan hidup di dunianya sendiri. 
Adalah Alicia Larde, seorang mahasiswinya yang cantik, yang membuatnya sadar bahwa ia juga membutuhkan cinta. Ketika pasangan ini menikah, Nash justru semakin parah dan merasa terus berada dalam ancaman bahaya gara-gara pekerjaannya sebagai agen rahasia. Nash semakin hari semakin terlihat aneh dan ketakutan, sampai akhirnya ketika ia sedang membawakan makalahnya di sebuah seminar di Harvard, Dr Rosen seorang ahli jiwa menangkap dan membawanya ke rumah sakit jiwa. Dari situlah terungkap, Nash mengidap paranoid schizophrenia. Beberapa kejadian yang dialami Nash selama ini hanya khayalan belaka. Tak pernah ada teman sekamar, Herman dan keponakannya yang menggemaskan, Marcee ataupun Parcher dengan proyek rahasianya.
Untungnya, Alicia adalah seorang istri setia yang tak pernah lelah memberi semangat pada suaminya. Dengan dorongan semangat serta cinta kasih yang tak pernah habis dari Alicia, Nash bangkit dan berjuang melawan penyakitnya.

Hasil Analisis :
Dari film tersebut dapat diketahui bahwa John Nash menderita skizofrenia paranoid, yang ditandai dengan simpton – simpton/ indikasi sebagai berikut:
1. Adanya delusi atau waham, yakni keyakinan palsu yang dipertahankan.
  • Waham Kejar (delusion of persecution), yaitu keyakinan bahwa orang atau kelompok tertentu sedang mengancam atau berencana membahayakan dirinya, dalam film tersebut yaitu agen pemerintah dan mata – mata rusia. Waham ini menjadikannya paranoid, yang selalu curiga akan segala hal dan berada dalam ketakutan karena merasa diperhatikan, diikuti, serta diawasi.
  • Waham Kebesaran (delusion of grandeur), yaitu keyakinan bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dan kekuatan serta menjadi orang penting. John Nash menganggap dirinya adalah pemecah kode rahasia terbaik dan mata – mata/agen rahasia.
  • Waham Pengaruh (delusion of influence), adalah keyakinan bahwa kekuatan dari luar sedang mencoba mengendalikan pikiran dan tindakannya. Adegan yang menunjukkan waham ini yaitu ketika disuruh membunuh isterinya, ketika disuruh menunjukkan bahwa dia jenius, dan ketika diyakinkan bahwa dia tidak berarti oleh para teman halusinasinya.
2. Adanya halusinasi, yaitu persepsi palsu atau menganggap suatu hal ada dan nyata padahal kenyataannya hal tersebut hanyalah khayalan. John Nash mengalami halusinasi bertemu dengan tiga orang yang secara nyata tidak ada yaitu Charles Herman (teman sekamarnya), William Parcher (agen pemerintah) dan Marcee (keponakan Charles Herman). Selain itu juga laboratorium rahasia, dan juga nomer kode yang dipasang pada tangannya.

3. Gejala motorik dapat dilihat dari ekpresi wajah yang aneh dan khas diikuti dengan gerakan tangan, jari dan lengan yg aneh. Indikasi ini sangat jelas ketika John Nash berkenalan dengan teman – temannya dan juga jika dilihat dari cara berjalannya.

4. Adanya gangguan emosi, adegan yang paling jelas yaitu ketika John Nash menggendong anaknya dengan tanpa emosi sedikitpun.

5. Social withdrawl (penarikan sosial), John Nash tidak bisa berinteraksi sosial seperti orang – orang pada umumnya, dia tidak menyukai orang lain dan menganggap orang lain tidak menyukai dirinya sehingga dia hanya memiliki sedikit teman.

Stressor atau kejadian – kejadian yang menekan yang membuat skizofrenia John Nash bertambah parah, yaitu :
·      Kalah bermain dari temannya
·      Merasa gagal berprestasi untuk mendapatkan cita – citanya
·      Merasa tidak dapat melayani isterinya
·      Tidak bisa bekerja atau mendapatkan pekerjaan kembali

Karakter Pribadi John Nash, yaitu:
·      Pemalu, introvert, penyendiri, rendah diri (merasa dirinya tidak disukai orang lain), kaku, tidak suka bergaul (tidak menyukai orang lain), penarikan diri dari lingkungan sosial.
·      Dalam kenyataannya (cerita sebenarnya bukan di film ini) John Nash adalah pribadi yang pemarah, suka bermain wanita, keras, kaku.
        Dalam film tersebut John Nash dibawa ke rumah sakit jiwa dan mendapatkan perawatan ECT (Electroshock Therapy) atau terapi elektrokonvulsif 5 kali seminggu selama 10 minggu. ECT merupakan terapi yang sering digunakan pada tahun 1940 – 1960 sebelum obat antipsikotik dan anti depresan mudah diperoleh. Cara kerja terapi ini yaitu mengalirkan arus listrik berdaya sangat rendah ke otak yang cukup untuk menghasilkan kejang yang mirip dengan kejang epileptik. Kejang inilah yang menjadi terapetik bukan arus listriknya. Sebelum dilakukan ECT pasien disuntikkan insulin sebagai pelemas otot yang akan mencegah spasme konvulsif otot-otot tubuh dan kemungkinan cedera. Efek samping penggunaan ECT adalah kelupaan atau gangguan memori. Efek samping ini dapat dihindari dengan menjaga rendahnya arus listrik yang dialirkan.
               Setelah menjalani perawatan di rumah sakit jiwa, John Nash menjalani perawatan di rumah dengan Obat Psikoterapetik. Obat ini harus terus diminum secara teratur oleh penderita skizofrenia. Meskipun obat ini tidak dapat menyembuhkan skizofrenia, namun obat – obat antipsikotik akan membantu penderita untuk menghilangkan halusinasi dan konfusi, serta memulihkan proses berpikir rasional. Cara kerja obat – obat antipsikotik yaitu menghambat reseptor dopamin dalam otak. Efek dari pemakaian obat tersebut yaitu : Sulit berkosentrasi, menghambat proses berpikir, tidak memiliki gairah seksual.
            Selain terapi biologis, John Nash juga mendapat terapi dari isterinya yaitu berupa dukungan sosial yang diberikan kepadanya, rasa empati, penerimaan, mendorong untuk mulai berinteraksi sosial (dengan tukang sampah), dan dorongan untuk tidak berputus asa dan terus berusaha. Terapi Sosial ini sangat membantu penderita skizofrenia dalam menghadapi peristiwa – peristiwa yang menjadi stressor bagi penderita.

Referensi :
Maslim, Rusdi, ed. Buku Saku PPDGJ III, Jakarta, 1995.

Sabtu, 24 Maret 2012

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB GANGGUAN JIWA

1.    Faktor Somatogenik (fisik-biologis)
Gangguan jiwa yang diakibatkan karena gangguan fisik serta ketidaknormalan pada gen dan kromosom pada individu.
·    Nerokimia, misal: gangguan pada kromosom no 21 menyebabkan munculnya gangguan perkembangan Down Syndrome yang merupakan bentuk keterbelakangan mental yang secara genetis paling umum diturunkan, disebabkan oleh munculnya suatu kromosom tambahan. Seseorang yang mengalami Down Syndrome memiliki wajah yang bundar, tengkorak yang rata, lipatan kulit tambahan sepanjang kelopak mata, lidah yang menonjol keluar, tungkai dan lengan yang pendek, dan keterbelakangan kemampuan motorik dan mental.
·           Nerofisiologi
·           Neroanatomi
·           Tingkat kematangan dan perkembangan organik
·           Faktor-faktor prenatal dan perinatal

2.    Faktor Psikogenik (psikologis)
·           Interaksi ibu-anak
·           Interaksi ayah-anak : peranan ayah
Jika seorang ayah dan ibu tidak menjalankan peranan mereka sebagai orangtua dengan baik, seperti kurangnya memberikan perhatian dengan melakukan interaksi dengan anak. Sehingga  komunikasi antara orangtua dan anak tidak berjalan dengan baik. Anak juga tidak akan nyaman berada dirumah dan bisa saja anak juga tidak nyaman berada disamping orangtua mereka sendiri.    
·           Sibling rivalry
·           Hubungan dalam keluarga, pekerjaan, permainan, dan masyarakat.
Lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya yang acuh (tidak peduli).  
·           Kehilangan : Lossing of love object.
Individu kehilangan kasih sayang dan cinta dari orangtua, teman dan pacar.
·           Konsep dini : pengertian identitas diri VS peranan yang tidak menentu
·           Tingkat perkembangan emosi
·       Pola adaptasi dan pembelaan sebagai reaksi terhadap bahaya : Mekanisme pertahanan diri yang tidak efektif.
Mereprese diri secara terus-menerus sehingga menimbulkan konflik dalam diri yang tidak dapat diatasi.
·      Ketidakmatangan atau terjadinya fiksasi atau regresi pada tahap perkembangannya. Dimana individu mengalami
·          Traumatic Event
·          Distorsi Kognitif
·          POLA ASUH PATOGENIK : sumber gangguan penyesuaian diri pada anak

3.    Pola Asuh Patogenik
·           Melindungi anak secara berlebihan karena memanjakannya
·           Melindungi anak secara berlebihan karena sikap “berkuasa” dan “harus tunduk saja”
·           Penolakan (rejected child)
·           Menentukan norma-norma etika dan moral yang terlalu tinggi
·           Disiplin yang terlalu keras
·           Disiplin yang tidak teratur atau yang bertentangan
·           Perselisihan antara ayah-ibu
·           Perceraian
·           Persaingan yang kurang sehat diantara para saudaranya
·           Nilai-nilai yang buruk (yang tidak bermoral)
·           Perfeksionisme dan ambisi (cita-cita yang terlalu tinggi bagi si anak)
·           Ayah dan atau ibu mengalami gangguan jiwa (psikotik atau non-psikotik)

4.    Faktor Sosiogenik (sosial-budaya)
·           Tingkat ekonomi
·           Lingkungan tempat tinggal : perkotaan VS pedesaan
·    Masalah kelompok minoritas yg meliputi prasangka, fasilitas kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang tidak memadai
·          Pengaruh rasial dan keagamaan
·          Nilai-nilai

 
SUMBER
Bahan Ajar Zarina Akbar
Santrock, John W., 2002. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga.

Kamis, 15 Maret 2012

Review Jurnal


Judul:
PANIC DISORDER AND GENERALIZES ANXIETY DISORDER

Case history
Ms X adalah seorang wanita 37 tahun yang telah menikah dan memiliki dua anak, usia 15 dan 10 tahun. Dia teridentifikasi mengalami kepanikan yang parah semenjak dirinya mengalami keguguran lima tahun yang lalu. Dia takut akan mengalami serangan jantung atau bahkan dia takut meninggal pada saat panik tersebut. Dia tidak membatasi kegiatannya karena kepanikan ini, namun dia menghindari kegiatan yang dapat merangsang peningkatan denyut jantung seperti latihan fisik, dan dia tidak melakukan pengalihan untuk mengatasinya. Kekhawatiran lain di luar kepanikan dipusatkan pada masa depan anak-anaknya,kesehatannya, penuaan, dalam menyelesaikan kegiatan rumah tangga, kinerja dalam kursusyang sedang berlangsung, dan ketika berinteraksi dengan anak-anaknya di depan orang lain.Ms X membantah adanya riwayat penyalahgunaan zat, masalah kesehatan fisik (kecualipenyakit asma dan hipoglikemia, yang dapat dikendalikan dengan pengobatan), atau masalah kejiwaan lain. Pada saat pengobatan, Ms X teridentifikasi kekhawatiran dalam berbagai domain dalam hal gejala-gejala fisik, seperti ketidakmampuan untuk bersantai, gangguan tidur (insomnia dan sering terbangun pada malam hari), lekas marah, dan tekanan dalam pernikahan dan dalam hubungannya dengan anak-anaknya. Pengobatan sebelumnya untuk kecemasan terdiri dari tiga sesi CBT sekitar 1 tahun yang lalu, yang dilaporkan menghasilkan beberapa manfaat yang minimal, salah satunya dengan membaca buku dapat untuk mengurangi kecemasan. Dalam pengobatan Ms X diobati dengan Clonazepam, yang diambil dua kali sehari, dengan beberapa tambahan yang digunakan untuk mengendalikan gejala kecemasan akut. Dia mempunyai riwayat 5 tahun percobaan berbagai pengobatan anxiolytic dengan efek yang umum.
Setelah dilakukan assesment berupa wawancara diagnostik terstruktur, Ms Xmemenuhi kriteria diagnostik untuk gangguan panik tanpa agoraphobia dan gangguan kecemasan umum. Ms X berada pada skala 80, jika direntangkan dalam skala 1 (sama sekali tidak takut) sampai 100 (sangat merasa takut). Kepanikan dan rasa takut ini melemahkan Ms X. Ms X mengungkapkan kekhawatiran terus-menerus dipicu oleh peristiwa sehari-hari, termasuk ketidakpatuhan anak-anaknya dan suami dalam pelaksanaan tugas-tugas rumah tangga, kegagalan untuk menyelesaikan pekerjaannya, mengurus sekolah anak-anaknya dan Ms X sempat merasakan kecemasan yang berlebihan pada saat akan wawancara kerja. Ms X menyadari bahwa masalahnya ini menggangu dalam hubungan dengan keluarganya namun subjek tidak mengurangi perilaku ini karena takut kehilangan kontrol sepenuhnya dari keluarganya, sehingga Ms X justru mengintensifkan perilaku ini. Terlepas dari pemenuhan umum yang berlaku dirinya dengan pekerjaan rumah, Ms X gagal mengungkapkan atau menunjukkan penurunan yang signifikan dalam kekhawatiran umum.
Didalam proses terapinya Ms X cenderung lebih argumentativeness, sering menggunakan kata-kaya ya, tapi, tidak bisa. Ms X mengakui sudah berusaha untuk mengatakan hal-hal positif namun tidak dapat menemukan hal yang membantu. Ms X berpikir bahwa pengobatan tidak akan berhasil untuk dirinya. Saat konsultasi pun Ms X merasa tegang dan argumentatif bersama konselornya.

Case Analysis
Berdasarkan kasus diatas jika dianalisis berdasarkan ciri abnormalnya adalah:
1. Disfungsi Psikologis
a. Aspek kognitif
Pikiran X terhadap rasa kepanikan dan kecemasannya ini membuat pikiran X melemahkan dirinya, X menjadi takut melakukan kegiatan karena dia berpikir takut mengalami serangan jantung atau bahkan mengalami kematian jika periode kepanikannya sedang berlangsung. Dan subjek berpikir bahwa pengobatan pun tidak akan bisa menyembuhkan dirinya.
b.  Aspek afektif
Kepanikan dan kecemasan yang dialami X membuat hubungan X dengan keluarganya tidak berjalan baik, X merasa tidak mampu menjalankan perannya secara baik didalam keluarga.
c. Aspek psikomotorik
Karena kepanikannya dan perasaan cemas yang dirasakan oleh X, X menjadi membatasi dirinya dalam kegiatan yang berhubungan dengan latihan fisik dan yang berhubungan dengan pacuan jantung.

2. Distres
a. Fisik
Subjek menghindari aktifitas yang melibatkan fisik selain itu subjek sering kali mengalami sulit untuk istirahat dan bersantai, mengalami gangguan tidur berupa insomnia dan sering terbangun ditengah malam.
b. Psikologis
X merasa tidak mampu menjalankan perannya dengan baik didalam rumah tangga, hubungan dirinya dengan keluarganya pun dirasa terganggu karena masalahnya ini. X merasa selalu tidak mampu untuk merubah dirinya, walaupun dia sudah selalu berusaha namun itu tidak membantu dirinya. X sempat tidak mau merubah perilakunya ini karena takut kehilangan perhatian sepenuhnya dari keluarganya.

3.  Respon Atipikal
Respon yang datang dari keluarganya, berupa tekanan dalam hubungan rumah tangga X dan juga hubungan dengan anak-anak X yang terlihat menjadi kurang baik karena perilaku X yang kurang bisa mengontrol dirinya sendiri.

Referensi
Westra, Phoenix. Motivational Enhancement Therapy in Two Cases of Anxiety Disorder New Responses to Treatment Refractoriness. London Health Sciences Centre, London, Ontario.